Senin, 21 Juni 2010

Sejarah SMA Negeri 2 Bondowoso

http://sman2bondowoso.com/images/stories/image1298.jpg
Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bondowoso, berdiri pada tahun 1980 tepatnya tanggal 30 Juli 1980 dengan SK. 0206/0/1980, dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Bondowoso.

Sebelum Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bondowoso berdiri, di kabupaten Bondowoso baru ada satu Sekolah Menengah Atas yaitu Sekolah Manangah Umum Tingkat Atas Negeri yaitu Sekolah Menengah Umum Persiapan Pembangunan Negeri (SMPP Negeri) yang bertempat di Tenggarang Boondowoso. Kemudian pada tahun 1980, berdiri dua Sekolah Menengah Atas Negeri yaitu Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bondowoso dan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bondowoso, yang pada waktu itu masih berkumpul menjadi satu dengan Sekolah Menengah Umum Persiapan Pembangunan (SMPP Negeri) di Tenggarang Bondowoso dan dipimpin oleh satu kepala sekolah yaitu Bapak Moelyono. Baru pada tanggal 2 Oktober 1981 setelah diresmikan pemakaian gedung, Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bondowoso pindah menempati gedung baru yang terletak dijalan Letnan Jendral Suprapto Nomor, 153 Telpon 421822 Bondowoso, dengan keadaan sarana dan prasarana yang belum lengkap termasuk tenaga pengajar yang jumlahnya masih 15 orang dan tata usaha 3 orang, sedang siswanya baru kelas 1 dan kelas 2, dan pada tahun pelajaran 1982/1983 SMA Negeri 2 Bondowoso, baru meluluskan lulusan yang pertama.

Baru lulusan tahun yang kedua SMA Negeri 2 Bondowoso mulai mengukir prestasi dimana pada lulusan pertama siswa yang diterima diperguruan tinggi hanya 3 siswa, pada tahun kedua bisa mencapai 58 siswa. Dan dari tahun ke tahun sampai dengan tahun pelajaran 2007/2008 ini sudah cukup banyak prestasi yang dapat diraih SMA Negeri 2 Bondowoso baik kejuaraan tingkat regional maupun tingkat nasional, sehingga banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas baik dalam kota maupun luar kota Bondowoso.

Sejak berdiri sampai dengan tabun 2008 SMA Negeri 2 Bondowoso sudah 7 kali mengalami pergantian pimpinan, yaitu :

  1. Bapak Moeljono mulai tahun pelajaran 1980/1981 sampai dengan 1984/1985
  2. Bapak Slamet Srijono mulai tahun pelajaran 1985/1986 sampai dengan 1990/1991
  3. Bapak RM. Tiksnardjo mulai tahun pelajaran 1991/1992 sampai dengan 1994/1995
  4. Bapak Drs. H. Zaki Hasan mulai tahun pelajaran 1995/1996 sampai dengan 1999/2000
  5. Bapak Drs. H. Hosni Syam mulai tahun pelajaran 2000/2001 sampai dengan 2001/2002
  6. Bapak Drs. Sostrijono mulai tahun pelajaran 2001/2002 sampai dengan 2003/2004
  7. Bapak Drs. Amrozi Farum mulai tahun pelajaran 2004/2005 sampai dengan 2007/2008
  8. Bapak Drs. Sutikno mulai tahun pelajaran 2008/2009 sampai dengan sekarang .

Jumlah siswa SMA Negeri 2 Bondowoso tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari siswa kelas 10, 11 dan 12 (kelas 1,2,dan 3) sebanyak 726 siswa

Sumber : http://sman2bondowoso.com

Sejarah Kota Bondowoso

Sejarah

http://www.depdagri.go.id/media/logo/daerah/Logo-bondowoso.jpg

Berawal dari seorang anak yang bernama Raden Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV.


Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak selir. pertempuran yang terjadi di desa Bulangan itu menewaskan Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri dan ilmu agama.


Usia 17 tahun beliau diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo. Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung.


Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 - 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Minggu, 20 Juni 2010

Presiden Pertama Republik Indonesia



















Ir. Soekarno

Lebih akrab dipanggil dengan Bung Karno
Lahir di Blitar Jawa Timur 6 Juni 1901
Meninggal di Jakarta 21 Juni 1970 pada usia 69 tahun

Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Namun karena sering sakit-sakitan saat masih kecil, menurut kebiasaan orang Jawa, oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamsi Kemerdekaan Indonesia, yang tidak boleh diubah

Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihadjo, seorang guru di Surabaya. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, berasal dari Banjar Bale Agung, Buleleng(Singaraja) Bali.

Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, kemudian ketika berusia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto mengajaknya tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) sambil mengaji. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).

Di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo serta Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij. Pada tahun 1926 Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 4 Juli 1927. Pendirian PNI (Partai Nasional Indonesia) adalah dengan maksud menggalang pergerakan dan kesadaran berkebangsaan dan kesadaran untuk Indonesia merdeka

Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda, dan memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan.

Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan.

Pada tanggal 31 Desember 1931 Soekarno dibebaskan kembali. Setelah bebas, pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partia Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan PNI dan sekaligus memimpinnya.

Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda pada bulan Agustus 1933 dan dibuang ke Ende, Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.

Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu. Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), BPUPKI dan PPKI tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif.

Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang Kekaisaran itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri.

Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Setelah menemui Marsekal Terauchi, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur’an.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.

Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara (Presidensiil/Single Executive). Selama revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi Semi-Presidensiil/Double Executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya Maklumat Wakil Presiden No X, dan Maklumat Pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1048 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai Pemangku Jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "Kabinet Seumur Jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai Sistem Multi Partai, bahkan menyebutnya sebagai "Penyakit Kepartaian".

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika yang masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan Presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan Imperialisme dan Kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya, terbentuklah Gerakan Non Blok.

Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.

Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat - menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada Sidang Umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Karena kesehatannya terus memburuk, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.
Makam tersebut kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.